KARING.WAHANANEWS.CO, Jakarta - Saat ini, Indonesia memiliki beberapa infrastruktur untuk mendukung koneksi internet.
Diantaranya, Jaringan Fiber Optik Palapa Ring, sebuah proyek infrastruktur "Tol Langit" yang menghubungkan 514 kota/kabupaten di Indonesia dengan jaringan serat optik sepanjang 12.128 kilometer.
Baca Juga:
Dana Kuota Haji, KPK Klaim Kantongi Bukti Aliran Uang ke Aizzudin Abdurrahman
Satelit Multifungsi SATRIA-1. Satelit ini memiliki kapasitas 150 Gbps dan dirancang untuk menjangkau 150 ribu titik di daerah pelosok yang tidak terjangkau kabel serat optik dari Palapa Ring.
Satelit lainnya, seperti Satelit Palapa-D yang sudah beroperasi sejak 2009 dan akan digantikan oleh satelit baru.
Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan kualitas dan jangkauan internet di seluruh wilayah negara dengan membangun infrastruktur digital dan meningkatkan kecepatan internet.
Baca Juga:
KPK Periksa Wakil Ketua DPRD Jabar Terkait Kasus Suap Bekasi
Saat ini, kecepatan internet di Indonesia masih relatif rendah, yaitu 28,8 Mbps untuk fixed broadband dan 24,6 Mbps untuk mobile broadband.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan akses internet di Indonesia, termasuk pembangunan jaringan fiber optik dan satelit multifungsi.
Namun, masih ada tantangan yang dihadapi, seperti biaya yang tinggi untuk menyediakan layanan internet di daerah terpencil dan kurangnya infrastruktur digital di wilayah timur Indonesia.
Hal ini terjadi adalah akibat perkembangan jaman (globalisasi era Digitalisasi), seluruh sendi kehidupan hampir berubah menjadi digitalisasi,uang digital,komunikasi,media sosial dari kehidupan rakyat sampai ke birokrasi terjadi digitalisasi.
Albert Soekanta Ketua umum Relawan Padamu Negeri yang juga ketua Presidium Kesatuan Buruh Marhaenis memberikan saran dan menghimbau kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat jangan terlalu tergantung kepada digitalisasi.
Perlu juga di backup dengan yg semi digital dan dengan yg manual (tradisionil)
Karena jaringan internet yg menggerakkan semua ini adalah sebuah alat/mesin, dimana alat tersebut pasti akan berkurang fungsinya seiring berjalannya waktu dan bahkan bisa menyebabkan jaringan rusak.
"Disisi lain diperlukan juga antisipasi dari serangan Siber dari mafia dan dari negara lain. Kita berharap pemerintah pusat tentunya telah memikirkan hal ini dan memiliki solusi dan dapat mengantisipasi," kata Albert dalam keterangan lewat WhatsApp, Kamis (15/1/2026).
Disebut, digitalisasi adalah perkembangan jaman yg membawa banyak dapat baik bagi kemudahan berinteraksi, berbisnis, mempermudah kerja birokrasi dan lain sebagainya dalam sendi kehidupan kita.
Tetapi dampak lain juga ikut terjadi yang kita tidak bisa menutup mata bahwa sendi-sendi ekonomi lemah yang masih manual secara otomatis menjadi tergerus dan mendapatkan dampak buruk.
Seperti pasar tradisionil, warung kopi, warung sembako, toko pakaian. Karena jaman sekarang ini apapun keperluan kita bisa diperoleh dari sebuah handphone.
Peranan buruh saat ini pelan-pelan tergantikan oleh robot, hal ini juga tentunya perlu perhatian serius dari pemerintah pusat.
Salah satu serangan siber yang menghantui dan dapat terjadi adalah pencurian data kita, pencurian akses bank, dokumen pemerintah dan lain sebagainya.
Pencurian duit bank saat ini dimungkinkan dapat dilakukan melalui serangan siber. Duit nasabah dapat hilang ratusan miliar hanya melalui serangan Siber. Begitu juga rahasia dan dokumen negara juga bisa dicuri melalui siber.
Kita juga berharap dan menghimbau kepada masyarakat agar siap-siap membuat antisipasinya jika jaringan internet mati. Salah satu persiapannya adalah menyimpan uang kontan untuk keperluan belanja di pasar tradisionil.
Albert Soekanta berharap pemerintah pusat dapat memberikan penguatan, keamanan jaringan dan pencegahan terhadap serangan Siber dan pencegahan terhadap kerusakan jaringan.
[Redaktur: Fernando]